Today is: Wednesday, 8th September 2010
Log in
BIAR
Aku terikat…
Hasrat tersirat desah semakin menjerat
Aku tak tahu apakah aku telah mati atau belum
Aku tak pernah tahu apakah nyawa itu melayang atau tidak
Aku teriak…
Hampa, gelisah tak berjeda
Ku hampir terduduk lemas tanpa arah
Detak-detak jantungku yang semakin terdengar
Gaduh, hingar-bingar…
Ku dengar sayup-sayup nyawa yang merintih
Sakit, perih…
Tertusuk duri dalam punggungku
Tak setitikpun nyata terlihat
Tak sepercik dosapun terhapuskan
Dekap aku bersama air mata
Peluk aku bersama keluh kesah
Biarkanlah aku pergi
Tinggalkan semua mimpi-mimpi
Gapai angan yang baru lagi
Sehingga suka datang tak terperi
KENAPA ? 2
Kenapa semua orang menganggap aku bodoh ?
Kenapa semua orang selalu mempermainkanku ?
Mengapa semua orang menikamku ?
Mengapa tak sekalian bunuh aku ?
Biar aku tak punya nafaas lagi di dunia
Biar aku tak bisa lagi merasakan waktu
Yang berjalan melingkariku
Mengapa mereka menganggapku tak lain
Hanya sebagai binatang
Yang tak mempunyai perasaan
Yang tak mempunyai pikiran
Aku benci semua ini
Aku benci kehidupan ini
Aku benci semua mimpi ini
Aku benci diriku sendiri
Rasanya aku tak pernah dapatkan
Sedikit udara untuk bernafas
Yang kurasakan hanyalah
Sesak
Yang tak pernah berakhir
KENAPA ? 2
Kenapa semua orang menganggap aku bodoh ?
Kenapa semua orang selalu mempermainkanku ?
Mengapa semua orang menikamku ?
Mengapa tak sekalian bunuh aku ?
Biar aku tak punya nafaas lagi di dunia
Biar aku tak bisa lagi merasakan waktu
Yang berjalan melingkariku
Mengapa mereka menganggapku tak lain
Hanya sebagai binatang
Yang tak mempunyai perasaan
Yang tak mempunyai pikiran
Aku benci semua ini
Aku benci kehidupan ini
Aku benci semua mimpi ini
Aku benci diriku sendiri
Rasanya aku tak pernah dapatkan
Sedikit udara untuk bernafas
Yang kurasakan hanyalah
Sesak
Yang tak pernah berakhir
TOREHAN BENCI
Aku berjalan dalam bimbang
Bergelut dengan kehendak hati
Dengarkan prosa-prosa hitam
Peraturan-peraturan tak tertulis
Susah, payah aku mengeluh
Penuhi inginmu kuasaiku
Keras, tajam aku bertarung
Gapai asa kebohongan penuh
Pecutan-pecutan menggores punggungku
Merah, kasar, berdarah
Seretan-seretan paksa aku
Menoreh, menodai tulang kakiku
Jangan coba kau tolong aku
Biarkan aku tenggelam dalam luka
Dalam, tertanam tak tampak
Tinggalkan aku dalam hina
Jangan sampai kau pun terluka
Biar aku yang bernanah dalam sakit
20 Dec 09 | 