Today is: Friday, 30th July 2010
Log in

APAKAH AKU HARUS DENGARKAN ?

Apakah aku harus dengarkan ?
Apa yang ingin orang-orang katakan
Tentang aku, tentang kamu
Dan tentang kehidupan kita
Apakah aku harus dengarkan ?
Teriak orang-orang yang memaki
Caciku cacimu, dan runtuhkan kita
Yang penuh air, penuh darah
Apakah aku harus dengarkan ?
Suara serau orang-orang
Resah, gelisahmu
Lawan seluruh asa yang t’lah terbangun
Apakah aku harus dengarkan ?
Terkam orang-orang
Yang siksaku, siksa jiwamu suci
Tanpa prasangka yang nyata adanya
Apakah aku harus dengarkan ?
Sapaan keras orang-orang
Yang tuduhku, yang terkamku
Berakhir kecewa, nan hina
Apakah aku harus dengarkan ?
Seluruh kekuatan orang-orang
Yang coba kejarku, tangisiku
Dengan sisa-sisa jiwaku yang rapuh

RETAK

Tertegun ku di senja batas alam raya
Terpana panorama indah, merah, memudar
Termenung sendiri pandangi terus garis cakrawala
Menanti bulan gantikan cahaya sang surya
Masih ku duduk di ayunan suara petang
Terhalang rintiknya gerimis menerpa
Tetap ku duduk tunggui janji bicara
Hingga lelapku terjaga dari hempasan
Terka coba tebak ada kisah yang kian nyata
Hiasi jalanan kita penuh cerita
Sirami semuanya dengan sangan-angan
Jadikan derak-derak tak terkata
Susun coba satukan kepingan impian
Yang sempat terpecah di keasingan jiwa
Panjat coba rambati rasa ingin singgah
Saat tak ada lagi mata yang terseka
Seakan pecah tak tertemui pecahannya
Hanya terlihat kilat hampiri bekasnya
Singgahi pelangi berkabutkan dahaga
Terpa kehampaan, asa terpendam
Lalu sempat pula terdustai
Kelam, pekat malam ini
Nanti hujan deras basahi diri
Sehingga bulan pun enggan hampiri

AMUK KATA

Aku merintih kesakitan
Aku menggigil kedinginan
Aku tersudut ketakutan
Aku terbuang dilupakan
Aku sendiri terasingkan
Lidahku kelu membeku
Tubuhku terbujur kaku
Pandanganku nanar
Teropong asa
Aku sendiri terpojok
Aku sendiri terjebak pekat rayuan
Aku sendiri terjatuh rapuh
Aku sendiri tanpa teman bernyanyi
Aku sendiri tiada tempat berlindung
Aku teriak tanpa batas
Aku berlari tiada lelah
Aku berpeluh kalah